Rabu, 22 Januari 2014

One Day One Juz Yang Memaksa Gue!


Assalamualaikum Wr. Wb.

Udah lama ga update blog ini. Hehhe… apakabar semua? Semoga Allah selalu memberikan kesehatan, kebaikan dan keberkahan pada para pembaca blog ini. Gue yakin, walau  banyak bencana yang terjadi di Negara kita ini, semoga Allah jadikan semua itu sebagai pelajaran untuk perubahan kearah yang lebih baik. In Shaa Allah. Gue turut prihatin ama keadaan semua itu. Berasa baca twitter Presiden SBY saat keadaan Mesir memanas. Hehehe…



Kali ini gue akan share sedikit pengalaman gue tentang ODOJ. Ada yang tau apa itu ODOJ?

Ada donk ya.

Yuhuuuu… ODOJ adalah singkatan dari One Day One Juz. Bukan jus jeyuk, jus lemon atau jus yang laen ya. Yang gue maksud dimari adalah Juz yang terdapat dalam alqur’an. Dimana kita membaca Al Qur’an ini sehari satu juz. Kalo diitung-itung rata-rata 10 lembar Al Qur’an. Jadi tiap harinya, kamu kudu baca surat cinta dari Allah ini, sebanyak 10 lembar. Itu artinya, kamu akan bisa mengkhatamkan Al Qur’an dalam 30 hari alias satu bulan. Hebatkan?


Gerakan ODOJ ini dimulai dari sebuah grup yang anggotanya 30 orang. Setiap orang membaca satu juz stiap harinya. Setiap harinya ada PJ yang bertanggung jawab untuk mengingatkan, update data dan juga memonitor semua anggota. Kalo ada diantara anggota yang belum bisa menamatkan 1 juz, maka akan dilelang juz yang bersangkutan. Misalnya ada salah satu anggota grup yang belum bisa menamatkan juz 12, maka juz itu akan dikeroyok. Bisa jadi si A ngambil lembar 1-5, dan si B untuk lembar 6-10. Ga sedikit yang berlomba-lomba ingin mendapatkan bonus ini. Hingga setiap harinya satu grup itu akan khatam Al Qur’an. Dan diakhir waktu membaca doa khatam Al Qur’an.

Gimana kondisinya kalo wanita yang sedang berhalangan atau mengalami masa nifasnya? Nah kalo liat kondisinya ada 3 pilihan yang bisa kamu lakuin. Pertama, sebagian orang  ada yang berkeyakinan boleh membaca walau dalam keadaan haid akan membaca Al Qur’an. Asal tidak mengotori Mushaf yang dipake. Biasanya ini dilakuin oleh para hafizah-hafizah yang setiap harinya megang Mushaf untuk menghafal dan Murajaah hafalannya. Pilihan kedua, kamu bisa Tasmi. Tasmi ini adalah mendengarkan Murotal Al Qur’an. Juz yang sedang yang dibaca tentunya. Misalnya, hari ini kamu kudu baca juz 10, nah kamu bisa mulai mendengarkan QS Al Anfal sampe dengan QS Attaubah. Dan yang ketiga ada Tarjim. Tarjim ini sendiri apa? Tarjim adalah membaca terjemahan juz bagian kamu. Contohnya, hari ini kamu bertanggungjawab untuk Juz 30, kamu bisa membaca artinya atau terjemahan Juz 30 ini. Mulai dari QS An Naba sampe dengan QS An Nas. Kalo baca tafsirannya lebih bagus lagi. Hehehe… tuh kan gampang.



Sekarang kamu bayangin ya. Dalam 24 jam kita hidup sehari semalam, 1 jam aja buat membaca surat cinta ini sungguh tidak berat bukan? Ohya, mungkin kamu bisa tanamkan dihati kalo  membaca Al Qur’an ini bukan menunggu waktu luang ya. Harus ada waktu tersendiri untuk mereka. Agar tidak memberatkan, kamu bisa menyicil membacanya. Misalnya 2 lembar setelah shalat subuh, trus disambung 2 lembar setelah Dhuha, begitu seterusnya. Hingga magrib, kamu bisa menamatkan 10 lembar Al Qur’an. 10 lembar Al Qur’an=1 juz Al Qur’an. Tuh kan gampang? Malu donk ya, waktu yang dikasih Allah Cuma kita gunakan buat dunia. Sementara buat akhirat kita nomor sekiankan. Hehehe.. santai aja bro. Gue ga bermaksud menghakimi kok. Orang gue juga masih badung. Tapi kita sama-sama bergerak ke perubahan yang lebih baguskan?


Gerakan ODOJ ini dilakukan bukan sebagai pamer kemampuan tilawah atau pamer amalan ya teman. ODOJ ini sarana buat kita saling mengingatkan. Karna gue yakin dan percaya, banyak diantara kita yang lupa membaca Al Qur’an setiap harinya. Bahkan mungkin ada yang udah lama sekali tidak menyentuhnya. Ooohhh… sayang sekali. Padahal pahalanya bukan tiap surat atau ayat, setiap huruf malah.  Gerakan ODOJ ini dilakukan untuk membangkitkan kembali  passion kita untuk membaca Al Qur’an. Hahaha, sorry bahasa gaol dikit. Biar kagak serius amat baca blog gue. Kembali ke tulisan. Sekali lagi gue gambarkan, ODOJ ini digerakkan agar kita kembali mencintai Al Qur’an, bergairah membacanya Al Qur’an, dekat dengan Al Qur’an, bahkan sedikit demi sedikit mampu menghafalnya. Tentu aja untuk kalimat yang terakhir gue sedang merangkak juga. Hahaha, maklum kita semua sama-sama dalam tahap perbaikan diri. Selalu berusaha untuk mencoba lebih baik. Betul tidak.


Gue sedikit berbagi pengalaman gue selama bergabung di ODOJ ini.
Jujur sebenernya, karna dari kecil udah ikutan Madrasah, jadi udah sedikit tertanam untuk mencintai Al Qur’an. Jiaaaaah, bukannya sombong ya. Hanya berbagi. Dikampus pun mulai menggeluti dunia kerohanian Islam dan sedikit banyak makin terpacu untuk membaca Al Qur’an lebih banyak. Namun saat bekerja, agak sedikit tersendat. Saat kuliah kadang gue bisa menamatkan 2 juz Al Qur’an dalam sehari. Namun saat bekerja, kadang sehari itu ga nyampe 1 juz. Malahan belakangan gue menurunkan standar gue untuk membaca Al Qur’an dari yang 1 juz sehari menjadi setengah juz. Itu pun kadang gue kudu maksain diri. Ternyata emang bener, saat kita bekumpul dengan orang-orang sholih dan sholeha, kita akan terpacu untuk menjadi lebih baik. Namun saat kita melangkahkan kaki keluar zona nyaman kita, sebut saja dunia kerja, tantangan keimanan makin banyak kita dapatkan. Contohnya saja apa yang terjadi pada diri gue ini. Kuantitas tilawah yang semakin sedikit membuat kita menjadi semakin jauh dari Allah. #curcol…

Untuk itu, saat gue denger ada forum ini, gue langsung mendaftarkan diri. Dan bergabung dengan 29 wanita sholeha lainnya yang merindu surga. Minggu pertama gue jalani dengan sangat berat. Entah mengapa gue jadi amat sangat terpaksa membacanya. Malahan bacaan gue mulai ga bener. Dari yang tadinya gue baca tartil dan bener, saat itu malahan gue baca amat sangat terburu-buru dan malah banyak salahnya. Mana room chat dipenuhi oleh wanita sholih yang nagihin kita udah kholas (selesai) apa belum. Gue pun amat sangat tersiksa. Gue menangis dan menyesal karna masuk ke forum ini. Dan ini smua pasti setan kemaksiatan udah banyak didiri gue. Hahaha...


Untungnya ada banyak saudari yang mendukung dan menasehati gue. Gue kembali membaca setiap tausiah yang berhubungan dengan Al Qur’an. Gue berusaha mencari sarana untuk penyemangat gue. Gue juga berusaha mencari banyak alasan agar gue tetap berada dalam lingkaran kebaikan itu. Dan akhirnya gue berhasil sedikit demi sedikit membaik.   Lalu dengan semangat yang gue bangun dengan susah payah setiap harinya, gue mencoba membuat sebuah schedule untuk gue membaca Al Qur’an tanpa terpaksa atau terburu-buru. Dengan schedule yang gue bikin, gue bisa membaca Al Qur’an dengan tartil dan sesuai haq-nya.  Bahkan gue pun mencoba membaca tambahan Surah-surah yang disunahkan membaca setiap harinya. Misalnya QS Al Waqiah, QS Al Kahfi ataupun QS Ar Rahman dan Yasin. Kadang  gue juga ikutan ngambil lelangan yang di share digrup. Hehehe… sekali lagi gue ga bermaksud pamer. Sebenernya lebih ke gue malu sih. Malu sama orang-orang sibuk yang masih bisa menyelesaikan 1 Juz sehari. Malu sama ibu-ibu rumah tangga yang kalo gue pikir2 rutinitas mereka lumayan banyak (beresin rumah, anak-anak, suami) tapi masih bisa lulus. Bahkan ada juga diantara saudara-saudari gue yng sedang sakit, namun mereka tetep mencintai Al Qur'an dengan segenap hatinya dan tetep bertinteraksi dengan Qalam Allah ini. Sungguh malu...



Gue merasakan, dalam keterpaksaan yang dilakukan secara berulang akan membentuk sebuah kebiasaan. Itu juga yang terjadi pada gue. Emang awalnya gue terpaksa, namun itu hanya diawal teman... Hanya diawal! Sekali lagi hanya diawal. Setelahnya, sedikit demi sedikit Allah akan menyisipkan rasa rindumu pada Firman Allah. Kamu  akan mulai mencintai Al Qur’an. Sehari tanpa membaca Surat cinta ini, kamu akan merasa sangat kehilangan. Kamu akan sepi dan merasa ada yang kurang. Bahkan tanpa sadar, Al Qur’an akan menjadi makanan wajib yang harus kamu konsumsi setiap hari. Walaupun gue berganti tas, Al Qur’an tak luput dari pandangan, akan selalu menyertai. Hhahaha… itu pengalaman yang gue rajut dengan segala jerih payah.

Dari keterpaksaan tadi gue belajar, kalo ternyata Allah memberikan cobaan bagi orang-orang yang berusaha mencari hidayah. Apakah orang itu sabar atau malah kalah. Dari keterpaksaan juga, gue mulai tau kalo AL Quran bukan hanya sebagai bacaan dari sebuah agama semata. Tapi juga sebagai pengobat hati yang gundah, sebagai hiburan dan tentu saja sebagai sarana kita untuk menjadi lebih dekat dengan Rabb semesta alam yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. 


Satu hal yang paling penting. Al Qur’an pun di akhirat nanti akan memberikan syafaatnya buat kita semua. Surat-surat yang kita baca akan menjadi saksi amalan baik kita. Mereka akan memberikan syafaatnya saat timbangan amalan kita kurang. Ga sedikit gue baca banyak pengalaman yang Masya Allah indahnya. Terakhir gue dapet kabar, seorang hafizah sedang koma di Rumah Sakit, namun saat yang sama beliau melantunkan ayat suci Al Qur’an. Bahkan tak sedikit yang merasakan berkah Al Qur’an dalam kehidupannya.


Tunggu apalagi kawan. Mari bergabung dengan ODOJ. Atau kalo kamu mau membaca seindiri tanpa diketahui orang, silahkan. Semoga Allah mempermudah niat-niat baik kita. 



Mereka aja bisa, kenapa kita ga :)