Jumat, 07 Desember 2018

Keberkahan Allah Di Reuni Akbar 212

Assalamualaikum Wr. Wb
Hello semuaaaa, gue kembali lagi. hehehe...Mau berbagi secuil kisah gue kemarin di REUNI AKBAR 212. Pasti udah banyak ya yg nulisin ini, tapi gue pengen nulis, sebagai salah satu kenangan terbaik yang pernah dimiliki #cieee..
Jumlahnya?
Yuklah yg mau Ngitungin. Hahaha... Jalan masuk gue lakonin dari Pintu Gambir jam 04.30 subuh, sampai di Pintu Monas Patung Kuda jam 06.30. Hahaha.. Niatnya mau ke Stand Komunitas, Apadaya kaki tak sanggup lagi. Ada yg bilang ga sampe 200rb? Baiqueee.. Silahkan puter2, cari sluruh poto dan dokumentasi ini. Dari ujung keujung, semuanya terisi oleh Jundi-Jundi Allah yang hanya ingin Islam tidak dicap Radikal, Jundi-jundi Allah yang begitu sedih ulamanya di kriminalisasi.


Dibayar? Mau bayar berapa banyak ini????
Nasi padang, sate padang, nasi kebuli, bubur ayam, nasi uduq, nasi liwet, segala macem kue, segala macem buah, segala macem minuman dari yg ga berwarna sampe gradasi 72 warna ada semua, kaos kaki, masker, jas hujan, sajadah, dan ratusan jenis barang-barang dibagikan FREEE, tanpa ada yg kelaparan, tanpa ada yg kehausan, TANPA REBUTAN DAN MENCACI, namun dengan sopan santun, asal sanggup aja bawa itu pulang semua. Hahaha, dan hebatnya mereka GA MARUK. Ga mau menang sendiri. Kami masih memikirkan saudara kami yang lainnya. Itulah Ukhuwah Islamyah.

Masih mikir ini Kampanye?
Ya Allah, ngapain temen gue dari Papua datang utk kampanye, secara tiketnya aja 15 juta bolak balik. Belum Hotelnya, belum makannya, belum jajannya? Ngapain kampanye pake duit sendiri? Helloooooo... Belum ada Partai apapun masanya segini banyak.


Bendera HTI?
Ya Allah, silahkan baca Shiroh lagi. Arrayah dan Al-Liwa itu adalah bendera yang Rasullullah perjuangkan ketika Damai maupun Jihad. Makanya, jangan hanya baca Novel, atau medsos aja. Bacalah buku-buku keilmuan yang akan menambah khazanah otak kita sebagai Muslim Sejati. Jelas-jelas itu adalah Kalimat yang dengan kalimat ini kita ingin hidup dan dimatikan. Masih menyangkal? silahkan cari bumi yang bukan Allah penciptanya.



Dipaksa datang?
Baiklah, kembali lagi semua yang menginjak kaki dihari itu di monas, Allahlah yg menggerakkan hati mereka. Menggerakkan tangan-tangan ini untuk berbagi. Menggerakkan bibir ini untuk terus mengucapkan Asma Allah, menggerakkan lisan ini untuk terus basah dengan Shalawat.



Gelombang Ekonomi Kerakyatan
Gelombang Ekonomi yang Membuncah dihari itu pun adalah bentuk Rezeki dari Allah. Berapa banyak pedagang-pedagang yang pulang dengan senyuman karena berlembar-lembar Rupiah Pak Proklamator terbawa pulang. Berapa banyak gerobak-gerobak diborong oleh para Budiman untuk dibagikan ke peserta. Bahkan bebeberapa diantara mereka berlari pulang untuk menambah dagangannya. Tak sedikit yang tidak mengambil kembalian jajannya. Bahkan tak sedikit pula pedagang yg dengan sukarela berbagi. Hanya mengharap keridhaan Allah. Lapak-lapak atribut, tak sedikit yang pulang dengan barang telah habis. Bus-bus disewa, angkot di carter, kapal-kapal berlayar menyebrangi lautan, kereta-kereta api penuh, bahkan katanya yang menyewa pesawat untuk memberangkatkan para peserta ini. Walau tak sedikit yang dihalangi, tak menyurutkan kaki kami untuk terus merambat menuju Monas

Islam itu kaya. 
Berapa banyak menusia saat itu yang rela membagi miliknya dengan peserta. Berapa banyak dana digelontorkan dari kantong-kantong pribadi demi ingin saudara-saudranya bisa menikmati aksi ini dengan perut penuh, hati seneng dan ceria. Ah.. sudahlah begitu banyak keberkahan yang dicurahkan Allah pada umatnya hari itu. Berbahagialah Jakarta 



Sungguh Malu Hati ini
Malu gue pada rombongan Tuna Netra yang berbaris rapi memasuki pintu Monas dengan sholawat dan Tauhidnya. Malu gue sama nenek-nenek yg setiap aksi ikut selalu, saat ditanya, alasannya sangat simple. "Saya nanti kalo mati, Malaikat bertanya, saat Islam dinistakan, Ulama di fitnah, Mesjid dituduh radikal, dimana saya? Semoga lisan saya kelak bisa menjawab, SAYA BERSAMA UMATMU DAN ISLAM" perkataan itu terus diulang-ulang. Malu gue pada adik-adik yang minumnnya duduk, tidak berdiri. Begitu hebat orangtua mereka mendidik mereka, sehingga sunnah Rasullullah SAW telah mereka terapkan sedari kecil. Malu gue sama seorang wanita paruh baya yg kebetulan belum menikah, membawa tas ransel yang duduk disebelah gue untuk sekedar istirahat sejenak. Belum saling sapa, dengan senyumnnya, dia mengeluarkan sebuah biskuit buat gue makan. Dan sembari istirahat, dia pun membagi-bagikan biskuit lainnya untuk mujahid-mujahidah cilik yang dibawa serta orang tuanya. Malu gue sama rombongan (sepertinya pengusaha, atau orang kaya) yang bersepeda, mengunakan atribut aksi. Dilihat dari jenis sepeda, pakaian yang digunakan mereka, bukanlah barang murah, tapi tak malu ikut serta bertasbih, bersholawat dari mulut mereka. Malu gue sama saudara-saudari yang kondisi fisiknya tidak sempurna (maaf, kakinya ga ada, tangannya ga ada, bahkan berkursi roda) turut serta bertahajjud dimalam itu untuk bersatu memohon pada Rabb semesta alam. Dan ratusan Malu lainnya yang hanya bisa saya rasakan sendiri dengan perasaan yang tak terkira. 
Smoga Allah mengampuni diri ini yang masih hina. Semoga Allah segera bantu Indonesia untuk menjauh dari kezaliman orang-orang yang menginginkan Islam jatuh. Semoga Allah Dampingin kita semua, untuk terus bersatu, berukhuwah, berjamaah membela Islam, membela Ulama, membela Mesji-mesjid kami yang dituduhkan Radikal. Bagaimana mungkin kami Radikal, jika tanaman saja kami jaga dengan baik. Bagaimana mungkin kami Radikal, minum dan kencing saja diatur dengan syariat Islam. Bagaimana mungkin kami tidak mencintai NKRI, rumput lindungi,  sampah-sampah saja tak malu kami pungut, Monas kembali bersih hanya 5 jam setelah aksi.  Bagaimana mungkin Mesjid kami Radikal, jika yang diserukan hanya kebaikan-kebaikan dan doa untuk negeri ini. Sungguh, cobalah husnuzon kepada kami, dan Kami pun akan lebih baik pada kalian.

Salam Semangat 212



Note :Sebagian foto-foto disini by google, dan grup-grup WA saya

Tidak ada komentar: