Kamis, 16 Mei 2013

Raungan suara rakyat biasa!!



Akhirnya gue beranikan diri menulis  tulisan ini. Banyak penumpukan yang tercipta di otak gue, hingga menuntut gue harus menuliskan semuanya di lembar blog ini. Hehehe, sebenernya gue juga bukan yang tau semuanya, tapi gue hanya ingin menuliskan isi otak gue yang udah over load dan harus segera ditumpahkan kedalam rangkaian kata-kata. Fenomena hari ini sungguh mengejutkan. Gue miris banget sama keadaan perpolitikan Indonesia. Terutama pada PKS. Hahaha, bukan karna gue seorang kader. Eh, gue juga belum jadi kader kok. Jadi gue hanya seorang yang mencintai dakwah, mencintai perjuangan, mencintai agama, dan tentu saja mencintai ukhuwah islamiyah yang gue temukan semua dari partai ini. Bukan karna gue sotoy alias sok tau juga, tapi jujur gue ngerasa kalo orang-orang yang berada di partai ini bukanlah orang sembarangan. Bukan orang yang asal comot, trus jadi pemimpin, penasehat, coordinator, caleg, bahkan mentri. Mereka melakukan pengkaderan dengan tahap dan seleksi yang  bertingkat (sotoy lagi). So, gue yakin dan percaya, output dari partai ini pastilah cukup bagus. Ya tentu saja selayaknya manusia normal, mereka ada kelemahan dan kekurangannya.

Gue dulu, sempat bekerja di kantor DPP partai  ini selama beberapa bulan. Sebenernya bukan sebagai kadernya ya, tapi sebagai karyawan yang mengelola satu unit usaha PKS. Yah, walaupun hanya beberapa saat, tapi gue merasa sangat terhormat bisa berkumpul dengan orang-orang yang selalu mengutamakan shalat tepat waktu dan berjamaah, mengutamakan Alqur’an disetiap aktifitas mereka, dan mereka selalu mengutamakan ibadah-ibadah  lainnya, sebagai penopang segala keputusan mereka. Dalam arti kata, mereka selalu melibatkan Allah dalam setiap aktifitas mereka. Shalat mereka yang panjang dan bacaan mereka yang tartil, bikin gue sadar, kalo ternyata dibumi Allah ini masih banyak orang-orang yang tunduk dan takut pada Allah SWT. Bahkan, dalam kekurangan, seorang Ustadz yang cukup berumur, dengan matanya yang hanya mampu melihat sebesar 30%, selalu menyerukan asistennya untuk membacakan ayat-ayat Al-Qur’an diwaktu senggangnya.  Hal ini dilakuin oleh Ustadz ini, hanya agar dia selalu dekat dengan Allah dengan ayat-ayat Allah. Bikin gue malu dengan indra yang sehat yang ada pada diri gue. Waktu itu seorang Ustadzah yang awalnya gue kenal hanya melalui media sepak terjangnya, ternyata aslinya jauh lebih baik. Pernah kami shalat berjamaah, dan beliau menjadi imamnya (untuk akhwat), dan gue terkesima dengan bacaan yang indah, tartil, dan sangat sesuai dengan tajwid serta rukun shalat. Dia juga seorang ibu yang berhasil mendidik anak-anaknya dengan baik walau sibuk dalam berdakwah. Terbukti, anak-anak mereka banyak yang telah berhasil mengkhatam hafalan Al Qur’an.  Bahkan semua laki-laki yang ada digedung itu, diwaktu jam shalat masuk, wajib turun kelobby dan shalat berjamaah. Mau pemimpin partai, satpam, OB, tamu, pokoknya semua laki-laki yang ada digedung itu, wajib turun dan bersujud bersama menghadap Allah SWT. Lobby gedung yang disulap menjadi tempat shalat, selalu penuh setiap harinya oleh orang-orang yang takut pada Allah.

Apakah orang-orang seperti ini akan korupsi dengan sadar tanpa rasa takut pada Allah? Apakah mereka “doyan wanita” tanpa berperasaan seperti seorang pengacara handal ucapkan? Apakah asset mereka yang jumlahnya miliar mereka dapatkan dengan menipu dan korupsi diberbagai lini pemerintahan? Apakah manusia dengan hafalan Al Qur’an yang banyak ini, tidak ingat Allah saat melihat video porno? Apakah mereka yang dilatih untuk melindungi saudaranya melebihi dirinya sendiri ini, berani mengeroyok wartawan yang lapar dengan keburukan PKS? Sementara bagi mereka, CUKUP ALLAH YANG TAU AMALAN MEREKA dan CUKUP ALLAH YANG MEMBALAS MEREKA.  


Huwaa, emang sih, manusia itu ada salahnya juga. Ga ada yang sempurna. Jadi gue ga menafikan kalo mereka melakukan salah. Tapi, hinaan, bully-an, kekerasan dan tuduhan yang mereka terima terasa  tidak adil. Bahkan KPK menangkap LHI tanpa surat resmi penangkapan, tanpa bukti dia tertangkap tangan korupsi 1 miliyar. Bahkan asset PKS yang ada dikantor juga disita setelah sebelum dengan ke-arogansian mereka datang tanpa membawa surat resmi penyitaan. Kemarin, gue denger malahan Ust Hilmi Aminuddin juga nyaris terjatuh dan terdorong, bahkan hampir terpukul oleh ratusan kamera, tripod, dan segala jenis peralatan wartawan. Bahkan media memberitakan bahwa oknum PKS yang mengeroyok para wartawan, padahal jelas di videonya, bahwa para tim keamanan PKS, dikeroyok bahkan mereka lari demi menyelamatkan diri dari pukulan, keroyokan para wartwan. Masya Allah sungguh tidak adil . Sungguh Allah Maha Tahu Segalanya. Allahlah satu tempat  berlindung.


KPK yang dulunya gue idolain, sekarang dimata gue hanya merupakan setumpuk orang yang memainkan perannya demi melindungi sebagian orang. Bahkan mereka sudah tidak sebersih dulu lagi. 2 petinggi Negara yang jelas-jelas ditetapkan menjadi tersangka, masih bisa berkeliaran dibumi Allah tanpa berdosa dan tanpa diadili. Sementara Ust LHI yang hanya ditangkap berdasarkan berita sepihak dan tanpa penyelidikan. Masya Allah. Kalo  begini jadinya, siapa yang akan dipercaya sama Umat. Tidak salah jadinya sebagian besar masyarakat menganggap kalo KPK sekarang telah ditunggangi oleh penguasa. KPK jilid III sekarang tidak sekuat KPK jilid II. Dan gue yakin, mata dunia akan melihat betapa bobroknya system pembully-an yang ada di Indonesia.  Dan gue juga sangat yakin, doa-doa orang yang terzolimi akan dikabulkan Allah. Mari saatnya semua kader, simpatisan dan orang-orang yang mendukung  partai, berdoa dan memohon pada Allah agar diberikan keberkahan dakwah.

Gue jadi inget kisahnya seorang pejuang yang luarbiasa. Bukan kisah super hero layaknya Zorro yang menyelamatkan kaum miskin dengan harta curiannya. Atau seperti Spiderman dengan jarring laba-labanya. Tidak! It’s Real. Zainab Al-Ghazali. Beliau adalah seorang wanita yang juga sempat dibully dengan berkali-kali dijebloskan kedalam penjara dan ditangkap dirumahnya sendiri, hanya karna dia seorang akhwat yang memperjuangkan hak-hak muslimah dijaman itu. Begitu juga Syekh Hasan Albana yang juga meninggal tanpa perlakuan adil. Ketika dia ditembak dan dijebak ditempat sepi, dia masih bisa menghubungi rumah sakit untuk membawa beberapa pengawal dan saudaranya yang juga kena tembak. Namun, sekali lagi keadilan tidak diperlihatkan oleh pemerintah saat itu. Syekh dibiarkan syahid dirumah sakit, tanpa perawatan dari dokter. Bahkan yang menemaninya saat itulah sejumlah oknum bersenjata yang bertugas memastikan beliau tewas. Masya Allah. Mereka adalah orang-orang yang bersedia menukar kematian dengan agamanya. Mereka adalah orang-orang yang berjuang dijalan Allah, tanpa bayaran pujian, harta dan kekuasaan. Mereka juga yang membangkitkan ribuan bahkan jutaan Muslim dunia untuk turut berjuang demi aqidah dan agama mereka.

Kisah mereka itu, mungkin akan terulang lagi untuk para pejuang PKS ini. Sekali lagi, gue bukanlah kader yang membela mereka mati-matian. Tapi gue hanya seorang yang tidak tahan dengan ketidak adilan ini. Namun, kata seorang temen ke gue saat gue minta pendapat tentang kasus ini, “Saya tidak punya hak dan kemampuan untuk melawan dan melakukan perubahan. Jadi ya nikmati aja.”. Hah? Nikmatin? Enak aja dia ngomong. Ya juga sih. Kita yang hanya rakyat biasa ga bisa melakukan apa-apa untuk para pejuang yang berjuang mati-matian mempertahankan dakwah ini. Tapi setidaknya kita bisa membela mereka dengan fakta yang benar. Kita juga bisa mengirimkan doa untuk mereka, agar selalu diberi kekuatan untuk tetep tegar. Karna sungguh, Allah yang akan menjada agama ini, dakwah ini, dan jalan ini. Gue yakin dan percaya suatu hari nanti, Allah akan membukakan jalan untuk kebenaran. Amin ya Rabbal Alamin

Tidak ada komentar: